Wednesday, October 28, 2020

Ritual Manene’ Bukan Ritual Mayat Berjalan Toraja, Camkan itu!

0

Ritual Manene’ Bukan Ritual Mayat Berjalan Toraja, Camkan itu! - Fenomena mayat berjalan memang lekat dengan Toraja. Dimana cerita ini benar terjadi di tana toraja, tepatnya di toraja bagian barat, juga di mamasa. Namun itu tidak lagi terjadi seiring dengan perkembangan jaman. Lebih tepatnya itu terjadi puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, ketika masyarakat toraja masih menganut kepercayaan yang disebut aluk todolo.

Ada dua kisah mengenai mayat berjalan. Yang pertama adalah orang2 toraja dulu sering berburu & mencari makan digunung atau dihutan, jauh dari tempat tinggalnya, sehingga jika ada salah satu dari mereka yang meninggal pada saat itu, kemudian digunakan ilmu gaib untuk membangunkan mayat agar kembali berjalan menuju rumahnya Untuk tidur dengan tenang atau dikuburkan dengan layak oleh keluarganya. Dan bahkan bisa berjalan menuju kuburnya yang berupa liang batu. Yang kedua adalah, dahulu terjadi perang saudara di toraja yang melibatkan masyarakat toraja bagian barat dan bagian timur yg dibantu oleh beberapa daerah di di utara. Namun dalam peperangan itu, karena kalah jumlah, toraja barat pun kalah Dengan banyaknya dari mereka yang gugur.  namun pada saat akan kembali ke kampungnya, mayat tersebut dibuat berjalan pulang. Berbanding terbalik dengan orang dari timur yang mengangkat rekan mereka yang gugur. Peperangan tersebut kemudian dianggap seri. Ritual ma’nene yang menakjubkan dari toraja kini dianggap atau bahkan disalah pahami oleh mereka yang belum paham mengenai ritual ini. Banyak dari mereka yang menyangka bahwa ritual ma’nene adalah ritual walking dead atau membuat mayat berjalan seperti yang dilakukan oleh orang toraja jaman dulu.

Yang sebenarnya ritual ma’nene’ adalah ritual membersihkan makam dan mengganti pakaian leluhur. Itulah cara masyarakat toraja menghormati leluhur mereka, nenek moyang yang dianggap akan tetap menjaga masyarakat toraja. Memang benar pada dasarnya pada ritual ini, mayat berdiri layaknya orang yang masih hidup. Namun tidak dibuat berjalan.

Ritual ma’nene’ sendiri bermula pada ratusan tahun lalu dimana saat itu seorang masyarakat baruppu’ bernama pong rumasek pergi berburu di pegunungan balla. Kemudian dia melihat mayat yang sudah hampir tidak utuh lagi sebagian hanya berupa tulang. Kemudian dia membungkus mayat tersebut dengan pakaiannya kemudian dikuburkan ditempat yang layak. Setelah saat itu pong rumasak sering mendapat hewan buruan dengan mudah dan hasil pertaniannya pun jauh lebih baik. Kemudian disimpulkannyalah bahwa menghargai orang yang sudah matipun memberikan berkat. Jadi, berbeda antara mayat berjalan dengan proses ritual ma’nene. membuat mayat berjalan sudah tidak lagi dilakukan, namun ma’nene masih dilakukan hingga kini.[bt]

Author Image
AboutAmir Al Maruzy

Soratemplates is a blogger resources site is a provider of high quality blogger template with premium looking layout and robust design

No comments:

Post a Comment